Thursday, December 27, 2012

Tugas Matkul Agama Buddha



  1.     Buddha telah mengajarkan salah satu ajaran yang sangat penting bagi kehidupan manusia dalam khotbah yang pertama setelah merealisasikan penerangan sempurna. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Dhammacakkappavattana Sutta!
Jawab :
Dhammacakkappavattana Sutta adalah khotbah Sang Buddha tentang pemutaran roda Dhamma untuk pertama kalinya kepada lima orang petapa yang bernama Koṇḍanna, Vappa, Bhaddiya, Mahanama, dan Assaji di Taman Rusa Isipatana dekat Kota Benares. Ajaran ini berisi tentang Jalan Tengah Berunsur Delapan untuk menghindari kedua ekstrem praktek kehidupan yang salah dan membawa pada tujuan akhir, Nibbana, dan Empat Kebenaran Mulia yang menunjukkan hakekat kehidupan ini yang tidak menyenangkan dan sebabnya serta jalan atau solusi untuk mencapai kebahagiaan sejati.
2 cara ekstrem yang harus dihindari oleh petapa, yaitu:
1)   Ekstrem duniawi (kāmasukhallikānuyoga) : Pandangan hidup yang materialisme.
2)  Ekstrem Spiritual (attakilamathānuyoga) : Pandangan hidup untuk mencapai kebahagiaan dengan cara menyiksa diri.
Jalan Tengah yang terhindar dari kedua jalan ekstrem itu, yang telah sempurna diselami oleh Sang Tathāgata, membuka mata batin, menimbulkan pengetahuan, membawa ketenangan, pengetahuan batin luar biasa, kesadaran agung, dan pencapaian Nibbāna. Jalan Tengah yang dimaksud adalah Jalan Mulia berunsur Delapan (Ariya Aṭṭhagika Magga), yang terdiri dari:
1)     Pandangan Benar (sammā diṭṭhi)
2)    Pikiran Benar (sammā sakappa)
3)    Ucapan Benar (sammā vācā)
4)    Perbuatan Benar (sammā kammanta)
5)    Penghidupan Benar (sammā ājva)
6)    Usaha Benar (sammā vāyāma)
7)    Perhatian Benar (sammā sati)
8)    Konsentrasi Benar (sammā samādhi)
Kemudian Sang Buddha menjelaskan hasil penemuan Beliau, yaitu Empat Kebenaran Mulia, yakni:
       I.    Kebenaran Mulia tentang Dukkha
Kelahiran, usia tua, kematian, ratap tangis, penderitaan jasmani, kepedihan hati, kekecewaan, berkumpul dengan yang tidak disenangi, berpisah dengan yang disenangi, tidak mendapat apa yang diinginkan adalah dukkha.
    II.    Kebenaran Mulia tentang Asal Mula Dukkha
Kesenangan (taha), inilah yang membuat kelahiran kembali, yang disertai dengan hawa nafsu dan kegemaran, yang menggemari objek di sana sini, yakni: kāmatahā (kesenangan terhadap nafsu inderawi), bhavatahā (kesenangan terhadap kemenjadian), dan vibhavatahā (kesenangan terhadap ketidakmenjadian).
   III.  Kebenaran Mulia tentang Musnahnya Dukkha
Musnahnya kesenangan tersebut tanpa sisa karena lenyapnya nafsu, terlepasnya kesenangan, tertolaknya kesenangan, terbebas dari kesenangan, tak terikat oleh kesenangan.
   IV.    Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Musnahnya Dukkha
Jalan menuju musnahnya dukkha adalah Jalan Mulia berunsur Delapan, yaitu Pandangan Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Penghidupan Benar, Usaha Benar, Perhatian Benar, dan Konsentrasi Benar.

2.   Setiap agama berdasarkan Ketuhanan, meskipun pengertian dan pemaknaan setiap agama tentang Ketuhanan berbeda-beda. Jelaskan apa yang dimaksud Tuhan Yang Maha Esa tidak dipandang sebagai suatu pribadi (Puggala Adhithana) dalam Agama Buddha!
Jawab :
Dengan mengetahui bahwa Tuhan dalam Agama Buddha sesungguhnya tujuan akhir yang perlu kita capai sebagai pemeluk ajaran Buddha, maka merupakan sesuatu yang mutlak bagi kita untuk mengenali bagaimana hakekat Ketuhanan (sifat-sifat Tuhan) itu sendiri. Adapun hakekat Ketuhanan dalam Agama Buddha adalah tidak berkondisi dan terbebas dari Lobha, Dosa, dan Moha. Karena tidak berkondisi dan terbebas dari Lobha, Dosa, dan Moha, maka sifat-sifat Tuhan adalah Maha Esa, karena hanya satu-satunya, dan mahasuci, karena terbebas dari Lobha, Dosa, dan Moha.

Karena itu, Tuhan bisa dikatakan bersifat impersonal (bukan pribadi), yaitu memahami yang mutlak/Tuhan sebagai anthropomorphisme (tidak dalam ukuran bentuk manusia) dan anthropopatisme (tidak dalam ukuran perasaan manusia). Jika masih berpandangan bahwa tuhan bersifat tidak impersonal, maka berarti masih berkondisi, yang berarti masih ada dukkha. Dengan demikian, bisa timbul pandangan bahwa Tuhan dapat disalahkan sehingga kita tidak dapat mendudukkan Tuhan dalam proporsi yang sebenarnya dan mengaburkan kembali pandangan yang semula bahwa Tuhan adalah yang tertinggi, mahasuci, mahaesa, mahatahu, dsb.

Yang mutlak (Tuhan) dalam agama Buddha tidaklah dipandang sebagai sesuatu pribadi (Puggala Adhitthana), yang kepadanya umat Buddha memanjatkan doa dan menggantungkan hidupnya. Agama Buddha mengajarkan bahwa nasib, penderitaan dan keberuntungan manusia adalah hasil dari perbuatannya sendiri di masa lampau, sesuai dengan hukum kamma yang merupakan satu aspek Dhamma.

3.   Dalam Cullavedala Sutta disebutkan bahwa yang dimaksud dengan sila adalah perkataan, perbuatan dan penghidupan benar. Jelaskan dua hal yang menunjang terlaksananya disiplin kemoralan (sila) dengan baik!
Jawab :
Untuk menunjang pelaksanaan sila pada diri seseorang, Hiri dan Ottapa akan banyak membantu.

Yang dimaksud dengan Hiri adalah perasaan malu, sikap bathin yang merasa malu bila melakukan kesalahan atau kejahatan. Ottapa artinya enggan berbuat salah atau jahat, sikap batin yang merasa enggan atau takut akan akibat perbuatan salah mapun jahat, baik melalui pikiran, kata-kata maupun perbuatan badan jasmani.

Sang Buddha bersabda, "Ada dua hal yang jelas, Oh Bhikkhu, untuk melindungi dunia. Hiri dan Ottappa (malu dan takut), bila kedua hal ini tidak menjadi pelindung dunia, maka seseorang tidak menghargai ibunya, tidak menghargai bibinya, tidak menghargai kakak iparnya, tidak menghargai istri gurunya....." - (Anguttara Nikaya II.7)

Hiri dan Ottappa disebut juga Dhamma pelindung dunia (Lokapala). Hiri dan Ottappa termasuk dalam Tujuh Kekayaan Ariya atau 7 kekuatan Dhamma, yaitu Tujuh Kekayaan Ariya menurut kitab Anguttara Nikaya IV.51: 
1.    Saddha = memiliki keyakinan
2.   Sila = menjaga ucapan dan perbuatan salah
3.   Hiri = batin yang malu melakukan kejahatan
4.   Ottappa = merasa takut dan ngeri akibat perbuatan jahat
5.   Bahusacca = mendengarkan Dhamma dan memahami kegunaannya
6.   Caga = melepaskan, meninggalkan, dan membagi-bagikan barang-brang kepada orang-orang yang membutuhkan
7.   Panna = mengetahui yang berguna dan yang tidak berguna (bijaksana)

Tujuh kekuatan Dhamma (Bala Tujuh)
1.    Saddha-Bala = kekuatan dari keyakinan.
2.   Viriya-Bala = kekuatan dari semangat (usaha).
3.   Hiri-Bala = kekuatan dari malu, malu berbuat salah (jahat).
4.   Ottappa-Bala = kekuatan dari takut, takut berbuat salah (jahat).
5.   Sati-Bala = kekuatan drai kesadaran.
6.   Samadhi-Bala = kekuatan dari konsentrasi.
7.   Panna-Bala = kekuatan dari kebijaksanaan.
Ketujuh kekuatan Dhamma di atas adalah bersifat batin yang akan menimbulkan kata-kata dan perbuatan baik atau akan mencegah kata-kata dan perbuatan jahat.
Contoh memiliki Hiri dan Ottappa dalam menunjang pelaksanaan sila:
  • Memiliki Hiri :
1.    Karena malu bila kelak disebut sebagai seorang yang kejam, kita menghindari pembunuhan dan penganiyaan.
2.   Karena malu bila kelak dijauhi oleh kawan-kawan dalam pergaulan, kita menghindari pencuriaan.
3.   Karena malu bila kelak diperguncingkan orang-orang, kita menghindari perbuatan asusila.
4.   Karena malu bila kelak kata-kata itu tidak didengar orang lagi, kita menghindari kata-kata dusta.
5.   Karena malu bila kelak kita kategorikan sebagai pemabuk, kita menghindari minuman keras, dan lain sebagainya.
  • Memiliki Ottappa :
1.    Karena takut kelak akan masuk alam neraka, kita menghindari pembunuhan.
2.   Karena takut bila kelak banyak timbul penyakit atau berusia pendek, kita menghindari pembunuhan dan penganiayaan.
3.   Karena takut masuk penjara, kita akan menghindari pencurian.
4.   Karena takut mendapat musuh, kita menghindari perbuatan asusila.
5.   Karena takut dicontoh anak-anak, kita menghindari kata-kata dusta.
6.   Karena takut wataknya dicela orang, kita menghindari minuman keras dan contoh-contoh lain sebagianya.

4.   Bumi kita ini suatu ketika pasti akan hancur (kiamat). Jelaskan bagaimana kehancuran bumi kita ini berlangsung sebagaimana telah disampaikan oleh Sang Buddha!
Jawab :
Proses kehancuran bumi terjadi karena ketidakberaturannya sistem rotasi orbit tata surya kita, sehingga terjadi persilangan orbit dengan sistem beberapa tata surya yang lain.
Akibatnya sinar matahari dari tujuh tata surya lain menerpa bumi kita pula, yang mengakibatkan bumi kita kepanasan, terbakar dan lenyap.
Selain itu, hubungan moral sosial sangat erat sekali dengan hukum alam, sehingga pengaruhnya dirasakan oleh manusia sendiri. Peranan pemerintah (raja dan menteri) juga mempunyai dampak yang besar sekali dalam sistem tata surya kita. Dalam Anguttara Nikaya, sang Buddha menyatakan tentang hancurnya bumi kita ini, sebagai berikut :
Ketika matahari kedua telah muncul, tak bisa lagi dibedakan antara siang dan malam. Setelah matahari yang satu tenggelam yang lain terbit, dunia merasakan terik matahari tanpa henti, tetapi tidak ada dewa yang mengatur matahari pada waktu kehancuran kappa berlangsung seperti pada matahari yang biasa, (karena dewa matahari pun mencapai Jhana dan terlahir kembali di alam brahma). Pada waktu matahari yang biasa bersinar awan kilat dan uap air berbentuk gelap memanjang melintasi angkasa, tetapi pada kehadiran matahari penghancur kappa angkasa sama kosongnya dengan cakram kaca jendela tanpa kehadiran awan dan uap air. Dimulai dengan anak sungai, air di semua sungai kecuali lima sungai terbesar menguap. Setelah waktu yang panjang berlalu matahari ketiga muncul, setelah muncul matahari ketiga air dari semua sungai juga menguap, kemudian setelah lama berlalu demikian matahari keempat muncul dan tujuh danau besar yang menjadi sumber sungai-sungai terbesar yaitu Sihappapatta, Hamsapatana, Khannamundaka, Rathakhara, Anotata, Chaddanta dan Kunala juga ikut menguap.
Lama berlalu demikian, muncullah matahari kelima setelah muncul matahari kelima air yang tersisa di samudera tidak cukup tinggi untuk membasahi satu ruas jari tangan. Kemudian di akhir periode itu muncullah matahari keenam yang membuat seluruh dunia menjadi gas, semua kelembabannya telah menguap, seratus milyar tata surya yang ada disekeliling tata surya kita sama nasibnya seperti tata surya kita. Setelah lama berlalu, akhimya matahari ketujuh muncul. Setelah munculnya matahari ketujuh, seluruh dunia (tata surya kita) bersama dengan seratus milyar tata surya yang lain terbakar. Walaupun puncak Sineru yang tingginya lebih dari seratus yojana juga ikut hancur berantakan dan lenyap di angkasa.

5.   Pemahaman tentang karma dari masing-masing orang bisa jadi berbeda, bahkan ada yang memahami karma yang cenderung menghubungkannya dengan semua pengalaman yang tidak menyenangkan. Jelaskan apa yang dimaksud dengan karma dalam Agama Buddha!
Jawab :
Karma adalah semua perbuatan baik atau buruk yang dilakukan oleh makhluk melalui pikiran, ucapan dan perbuatan badan jasmani yang didasari oleh niat atau kehendak (cetana) baik disengaja maupun tidak disengaja. Yang tidak disebut karma yaitu perbuatan yang tidak sengaja dilakukan misalnya, sewaktu berjalan, ada semut yang terinjak mati dan perbuatan seorang arahat, karena arahat tidak mengkondisikan kelahiran kembali yang mengatasi baik atau buruk.

6.   Meditasi merupakan ajaran yang sangat penting bagi umat Buddha, yaitu suatu cara untuk melatih pemusatan pikiran. Jelaskan dua macam meditasi (bhavana) dalam agama Buddha!
Jawab :
Samatha bhavana adalah meditasi ketenangan batin sedangkan vipassana bhavana adalah meditasi untuk mencapai pandangan terang. Bagi mereka yang melaksanakan meditasi dapat merasakan manfaat dalam kehidupannya sehari-hari, beberapa diantaranya adalah: dapat memusatkan pikiran dengan cepat, kewaspadaan terpelihara, mengurangi penyakit-penyakit psikis. Bagi mereka yang mampu mencapai jhana dapat memiliki kekuatan batin, bagi mereka yang berhasil mencapai kesucian batin mencapai manusia suci.

7.   Melaksanakan meditasi akan mengkondisikan berbagai manfaat bagi orang yang berhasil melaksanakannya. Jelaskan tiga manfaat meditasi yang disesuaikan dengan tingkat pencapaianya!
Jawab :
1)      Bagi mereka yang sering bermeditasi dan berhasil, mereka dapat menenangkan pikiran, kewaspaaan terpelihara, indera-indera terkendali; dapat mengatasi stress, keragu-raguan, kekhawatiran, penyakit-penyakit psikis ringan; mempunyai kemampuan untuk lebih mengerti apa yang sedang dihadapi (misalnya persoalan), dll.
2)     Bagi mereka yang bermeditasi mencapai Jhana (Rupa dan Arupa) dapat memiliki satu atau beberapa kekuatan batin (Abhinna), sehingga dengan adanya Abhinna ini, pandangan hidup mereka akan bertambah luas sekali, lebih tinggi daripada pandangan hidup manusia (biasa) yang tak memiliki Abhinna. Bila mereka meninggal dalam Jhana maka mereka akan terlahir kembali di alam yang sesuai dengan tingkat Jhana yang dicapai.
3)     Bagi mereka yang bermeditasi mencapai kesucian batin, mereka menjadi manusia suci (Ariya Punggala). Ariya Puggala ada beberapa macam sesuai dengan tingkat penghancuran belenggu batin (Sampyojana). Ariya Puggala adalah orang suci seperti Sotapanna (orang suci yang telah memasuki alam Nibbana), Sakadagami (orang suci yang terlahir sekali lagi lalu mencapai penerangan sempurna), anagami (tidak ada kelahiran kembali) atau arahat.

1 comment:

  1. nak tau dapat sumber daripada mana ya.. saya sedang buat research.. huhhu.. tolong saya dapatkan sumber..

    ReplyDelete

My Slide Design

✿✿✿